Nilai Ibadah Puasa sebagai Momentum untuk Meningkatkan Ketaqwaan kepada Allah SWT

2.1 Pengertian
Nilai Ibadah Puasa sebagai Momentum untuk Meningkatkan Ketaqwaan kepada Allah SWT
– Nilai pada judul diatas berarti seberapa penting, ukuran. Nilai adalah makna dari suatu hal yang dapat diukur seberapa pentingkah hal tersebut sehingga suatu hal membutuhkannya.
– Ibadah Puasa adalah menahan segala hawa nafsu, termasuk makan dan minum, amarah dll. dari terbit fajar hingga terbenam matahari dengan ikhlas dan mengharap ridha-Nya.
– Momentum adalah kesempatan, waktu yang disediakan yang dapat kita mafaatkan untuk melakukan sesuatu yang baik.
– Meningkatkan adalah menambah dan memperbaiki agar dapat menjadi lebih baik.
– Ketaqwaan adalah rasa takut, mengharap perlindungan, berbuat baik dan semua hal lain yang melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya yang kita jalani dengan sepenuh hati mengharap ridha-Nya.
Jadi, Nilai ibadah puasa sebagai momentum untuk meningkatkan ketaqwaan kepada Allah SWT adalah Pentingnya ibadah puasa sebagai kesempatan untuk meningkatakan iman dan ketaqwaan kita kepada Allah SWT.
2.2 Nilai Ibadah Puasa untuk Meningkatkan ketaqwaan
Tujuan utama dari ibadah puasa adalah memantapkan keimanan kepada Allah SWT sehingga keimanan itu menjelma menjadi ketaqwaan. Ini dikemukakan Allah dalam firman-Nya pada surat Al-Baqarah ayat 183, yaitu:

“Hai orang-orang yg beriman diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.” .

Apabila target dari ibadah puasa ini dapat dicapai, maka ibadah puasa akan membuat kita menjadi orang yang memiliki tiga hal, yaitu:
1-Pertama mencegah diri dari segala bentuk dusta sebab dalam hadits riwayat Bukhari Muslim dan Ahmad yang artinya sebagai berikut: “Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan yang keji dan melakukan kejahatan Allah tidak akan menerima puasanya sekalipun ia telah meninggalkan makan dan minum.” Berarti, dalam hadits tersebut dinyatakan bahwa Allah SWT tidak menerima puasa seseorang yang tidak meninggalkan perkataan dusta.
2-Kedua memiliki benteng pertahanan rohani yang kuat sehingga dia menjadi orang yang mampu menjaga dan mencegah dirinya dari dosa. Rasulullah SAW bersabda yang artinya “Puasa adalah perisai dari api neraka seperti perisainya seseorang di antara kamu dalam perang.” .
3-Ketiga selalu terangsang untuk berbuat baik karena ibadah Ramadhan memang selalu mendidik seseorang untuk melakukan kebaikan, baik terhadap Allah SWT maupun terhadap sesama manusia.
Menurut hal-hal yang telah ditulis di atas, nilai ibadah puasa sangatlah penting karena dengan ibadah puasa kita dapat meningkatkan ketaqwaan kita kepada Allah SWT.
2.3 Puasa adalah Kesempatan untuk Mendekatkan Diri pada-Nya
Kita mendekatkan diri pada Allah dengan cara menjalankan segala perintahnya dan menjauhi larangan-Nya. Puasa adalah salah satu cara terefektif untuk mendekatkan diri kepada-Nya.Pada saat berpuasa kita harus menahan segala hawa nafsu kita. Jadi, jika kita fokus terhadap puasa kita, kita akan terdorong untuk menghindari hal-hal yang dilarang olehNya. Contohnya, ada seorang Ibu yang bergosip dengan temannya, lalu Ibu tersebut teringat bahwa ia sedang berpuasa. Dan ia segera mengucapkan istighfar. Ada seorang Ibu lagi, Ia juga sedang bergosip bersama temannya. Sampai berjam-jam tidak berhenti. Ia lupa bahwa hal tersebut adalah perbuatan dosa.
Jadi, puasa dapat dijadikan sarana pengingat akan hal-hal buruk yang menjadi kebiasaan masyarakat. Kita pasti tidak mau puasa kita batal hanya gara-gara membicarakan kesalahan orang lain. Maka, begitu kita puasa kita menjadi hati-hati dengan tingkah laku kita.
Puasa juga dijadikan latihan untuk memperbaiki sikap kita. Jika kita melatihnya dengan serius, dan banyak berdo’a pada Allah, sikap kita sewaktu puasa akan terbawa ke kehidupan sehari-hari. Karena jika kita berhasil memperbaiki sikap kita menjadi berakhlak karimah, kita sudah maju selangkah untuk semakin dekat dengan-Nya.
Keistimewaan penting lainnya sewaktu kita berpuasa di bulan Ramadhan, segala kebajikan atau amal yang shaleh akan dibalas dengan pahala yang besar. Contohnya, untuk orang yang memberi makan atau minum kepada orang yang berbuka puasa, Allah Swt akan memberikan pahala puasa orang yang diberi makan atau minum itu tanpa mengurangi pahala orang tersebut. Ibadah lainnya seperti, berusaha mengkhatamkan Al-Qur’an, melaksanakan shalat sunnah yang biasanya tidak kita kerjakan. Apalagi ada ibadah shalat tarawih, kita jadi sering pergi masjid.
Ada juga hal yang di hari-hari biasa hukumnya mubah, tapi pada saat melakukan ibadah puasa Ramadhan menjadi sunnah, misalnya tidur, akan tetapi kita tidak boleh tidur melewati batasnya. Tentunya kita masih mempunyai hal-hal lain yang lebih penting untuk kita kerjakan agar kita dapat memanfaatkan ibadah puasa Ramadhan dengan lebih maksimal lagi.
Hal ini akan membuat kita semakin terlatih atau terbiasa untuk melakukan amal-amal yang shaleh dan beribadah lebih giat dari pada biasanya. Karena kita pasti akan rugi jika kita menyia-nyiakan kesempatan satu bulan yang hanya terjadi setahun sekali tersebut.

2.4 Dampak berpuasa terhadap ketaqwaan kita
Dampak berpuasa jika kita tinjau dengan teliti di kehidupan sehari-hari akan terbagi dua. Yang pertama dampak bagi orang-orang yang serius menjalankan ibadahnya dan dampak bagi orang-orang yang hanya sekadar menjalankan, tetapi tidak sepenuh hati.
1) Dampak Terhadap Orang-Orang yang Serius Menjalankan Ibadahnya
Dalam hal ini, sekali membaca subjudul di atas kita semua pasti sudah mengetahui bahwa orang-orang tersebut akan terkena dampak positif puasa terhadap ketaqwaan mereka.
Ibadah puasa ramadhan sesungguhnya merupakan pertemuan antara tauhidillah dan tauhidul ummah, antara perkhidmatan kepada Allah dan perkhidmatan atau penghormatan kepada kemanusiaan. Dalam konteks pengkhidmatan kepada Allah, puasa merupakan bentuk ketundukan (taabudiyah) manusia beriman terhadap perintah Allah SWT yang berujung pada peningkatan ketaqwaan.
Di sisi yang lain sebagai bentuk pengkhidmatan kepada kemanusiaan, puasa ramadhan merupakan latihan penahanan diri, kefakiran dan kedermawanan, berpuasa menempa komitmen orang terhadap kehidupan etis, disiplin, kebajikan, dan empati. Orang berpuasa diajak untuk mengekang egoisme, ketamakan, kekerasan dan kebejadannya demi membuka diri penuh cinta kepada yang lain.
Dengan melatih hal-hal tersebut di atas, ketaqwaan kita kepada Allah, otomatis akan meningkat. Tidak hanya itu, kita pun akan dipercaya oleh masyarakat sekitar karena budi pekerti luhur yang baik. Yang jelas, kita mendapatkan sangat banyak manfaat dari ibadah puasa untuk keselamatan dunia maupun akhirat.
2) Dampak Terhadap Orang-Orang yang Menjalankannya Setengah Hati
Seperti yang kita ketahui, puasa tidak memiliki dampak negatif. Jadi, dampak terhadap orang-orang yang menjalaninya setengah hati tidak ada. Ibadah puasa tidak akan berdampak apapun terhadap ketaqwaan mereka. Ketaqwaan mereka tidak bertambah.
Contoh dari hal seperti inilah yang justru banyak terdapat di sekitar kita. Kita tidak perlu menerka-nerka siapa. Kita dapat ambil contoh langsung yaitu salah seorang tokoh yang begitu di idolakan dan di puja-puja masyarakat zaman sekarang. Artis ataupun selebriti adalah contoh nyata yang dapat dilihat langsung dimana letak kesetengahan hati mereka dalam berpuasa.
Artis A pada bulan-bulan biasa memakai baju yang terbuka, begitu bulan Ramadhan mendekat, Ia mengenakan pakaian yang sopan dan selendang. Selama sebulan penuh Ia mengenakan pakaian seperti itu. Setelah bulan Ramadhan dan Idul Fitri, artis A tersebut kembali pada rutinitas awal. Apakah puasanya berdampak terhadap ketaqwaannya? Jawabannya tidak. Karena Ia akan kembali pada rutinitas awal yang buruk, yaitu tidak menutup aurat. Seharusnya Ia tahu dan sadar akan kesalahannya. Begitu juga dengan orang-orang yang banyak berzikir pada bulan Ramadhan saja, yang berarti, setelah ibadah puasa Ramadhan ibadah mereka tidak mengalami peningkatan dari Ibadah-Ibadah pada bulan-bulan biasa yang sebelumnya. Padahal membiasakan diri berzikir, salat sunnah dan banyak Ibadah lainnya sangatlah bermanfaat.
Selain Ibadah, tentu akhlak kita juga akan berubah, terbawa akhlak pada saat bulan Ramadhan yang berlaku pada mereka yang sungguh-sungguh, sedangkan bagi mereka yang tidak sungguh-sungguh, akhlak mereka tidak akan berubah. Mereka hanya menganggap bahwa “Ah, itu kan pada bulan Ramadhan…” dan menganggap pada bulan lainnya tidak apa-apa melakukan hal tersebut.
Dan ada kemungkinan jika mereka yang setengah hati belum memahami apa itu puasa sehingga mereka melakukannya dengan setengah hati. Atau, mereka sudah tahu, tapi belum memahami yang sebenarnya. Hal tersebut akan berdampak seperti berikut.
– Nilai puasa sebagai upaya menahan diri dari lapar dan haus bagi tubuh
kita pada siang hari merupakan indikator untuk mengukur dampaknya adalah apakah ketika berbuka puasa kita menyediakan banyak makanan dan melahapnya sebanyak mungkin seperti membalas dendam? Jika ini yang terjadi, dapat disimpulkan “puasa” kita di siang hari sama sekali tidak berdampak.
– Nilai puasa sebagai upaya menahan diri dari pikiran-pikiran negatif (suudzon), jika kita masih berpikiran egois, seenaknya dan tidak memikirkan orang lain dalam setiap kali akan melakukan tindakan (contoh: parkir sembarangan, mengebut di perumahan dsb), maka dengan indikator itu dapat dipastikan “puasa” kita tidak ada dampaknya sama sekali dalam hidup keseharian kita.
– atau kita masih punya pikiran “cari yang haram saja susah, apalagi yang halal” dalam melakukan usaha kita sehari-hari, maka dapat dipastikan kita akan menjadi “machiavelis” kita akan menghalalkan segala cara dalam menempuh tujuan kita, korupsi menjadi hal yang biasa bahkan menjadi budaya. Karena “mengurus sesuatu itu harus dengan suap atau sogok” yang terjadi dimana-mana dan menjadi biasa, dalam siatuasi yang demikian sesungguhnya pikiran kita sudah ada terjajah atau terhegemoni, sehingga kebathilan menjadi biasa. Jika pikiran ini masih melekat dalam benak kita, dapat dipastikan puasa kita hanya ritual rutin saja yang tidak berdampak sama sekali pada hidup keseharian kita.
– Nilai puasa sebagai upaya menahan diri dari prilaku atau perbuatan salah dan tercela, pada level ini sesungguhnya sama artinya kita mengukur sejauh mana kesadaran hukum kita dalam hidup bermasyarakat. Apakah kita masih berhenti dilampu merah, meskipun tidak ada polisi? Apakah kita mau menghentikan mengambil uang (Negara, uang publik atau masyarakat) yang bukan menjadi hak diri kita sendiri atau korupsi? Apakah kita masih mau menerima perbedaan pendapat dalam rangka memutuskan sesuatu, didalam suatu musyawarah? Jika jawabanya tidak, atau kadang-kadang, maka kesimpulannya puasa kita tidak berdampak pada kehidupan sehari-hari.

2.5 Cara Memanfaatkan Ibadah Puasa agar Ketaqwaan Kita Meningkat dengan Maksimal
Yang pertama kita harus punya tekad untuk mengubah kebiasaan-kebbiaan buruk kita dengan ibadah puasa sebagai sarana pelatihannya. Kita juga harus mempunyai target dalam beribadah agar kita lebih bersemangat dengan mengejar target. Jika kita sudah berhasil dengan kebiasaan buruk kita, pada bulan Ramadhan tahun berikutnya ubahlah sedikit-sedikit kebiasaan buruk lain yang belum diubah, dan kuatkan hati agar tidak terpengaruh lingkungan yang buruk. Hal ini dapat menyia-nyiakan latihan kita pada bulan Ramadhan. Lalu jika target dalam beribadah sudah terpenuhi, cobalah bawa kebiasaan beribadah lebih tersebut ke bulan-bulan biasa. Dan, untuk Ramadhan tahun depan, kita tambah lagi target ibadah kita.
Dengan menggunakan metode di atas, kita dapat memanfaatkan kesemapatan ibadah puasa Ramadhan kita dengan sebaik-baiknya karena selain melaksanakan hal-hal baik yang lebih pada bulan Ramadhan, kita juga menjadikan ibadah puasa Ramadhan sebagai sarana latihan untuk mengubah keburukan-keburukan kita pada bulan-bulan biasa. Sehingga ketaqwaan kita meningkat.
2.6 Hubungan Pemahaman Ibadah Puasa dengan Pemanfaatannya
Hubungan antara pemahaman iabadah puasa dengan pemanfaatannya sangatlah besar. Jika kita tidak tahu apa manfaat dan keuntungan berpuasa, apakah kita dapat menjalankan puasa kita dengan sepenuh hati? Tentu tidak. Kita pasti akan bertanya-tanya, untuk apa Allah menyuruh kita berpuasa? Bukankah itu hanya menyiksa diri sendiri? Tetapi, jika kita sudah mengetahui apa tujuan dari berpuasa, kita pasti dengan senang hati menjalankannya dan kita juga dapat memanfaatkan kesempatan ibadah puasa Ramadhan dengan maksimal.
1) Mengapa kita harus berpuasa?
Ramadhan secara rutin kita jalani dan lebih banyak bersifat seremonial saja tanpa ruh. Karena itu kita sering tidak mendalam memahami pertanyaan “mengapa kita harus berpuasa? Sebagaimana diketahui tujuan dari perintah berpuasa adalah “agar orang yang beriman bertaqwa” (QS Al Baqarah 183). Dalam kaitan dengan pengertian ketakwaan, maka seharusnya juga dihubungkan dengan Surat Al Baqarah ayat 186, yang berbunyi :

“Apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) bahwa Aku dekat, Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran”

Dari firman Allah ini, maka pengertian ketaqwaan dalam konteks menjalankan Ibadah Puasa ramadhan mesti dimaknai bahwa ketaqwaan itu merupakan kedekatan dengan Allah Swt. Dalam menggambarkan kedekatan ini, sebuah Hadis Qudsi menjelaskan:

“Semua amal anak Adam dilipatgandakan. Kebaikan dilipatgandakan sepuluh sampai seratus kali, kecuali puasa, kata Tuhan. Puasa untuk Aku, dan Aku yang akan memberikan pahalanya. Orang yang berpuasa meninggalkan keinginannya dan makanannya hanya karena Aku… (HR. Al-Bukhari dan Muslim).”

Pemahaman inilah rasanya yang jarang dihayati dan digali kedalamannya oleh kita pada umumnya. Kedekatan kepada Allah Swt akan melahirkan segala prilaku baik pikiran, ucapan maupun tindakan kita menjadi terukur, apakah yang kita pikirkan, apakah yang kita ucapkan dan apakah setiap tindakan kita sesuai dengan syariah, apakah akan mendapat ridhaNya, atau yang lazim apakah sudah islami.
Pemahaman inilah yang merupakan salah satu faktor bagaimana ibadah puasa ramadhan ini akan memberikan dampak pada hidup keseharian kita.

2) Keliru memaknai atau memahami esensi puasa
Berpuasa itu berarti menahan diri. Berhenti makan minum bagi yang berpuasa hanyalah merupakan bentuk (form) ketaatan menahan diri. Yang lebih esensial adalah sikap bathinnya, apakah seseorang benar-benar berpuasa (menahan diri dari semua perbuatan yang salah dan tercela). Dengan kata lain: hari-hari di bulan Ramadhan hanya akan menjadi hari-hari yang istimewa bagi mereka yang benar-benar ingin menjadi Fitrah, yaitu mereka yang benar-benar berpuasa secara substansial dan esensial,bukan sekedar formal.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s