Achitecture Before Greece ( Arsitektur Sebelum Yunani )

Sejarah Arsitektur

 

Chapter One Achitecture Before Greece (Arsitektur Sebelum Yunani)

1.Prasejarah

Hal paling luar biasa dari arsitektur prasejarah adalah seberapa cepatnya arsitektur yang tidak begitu memperhatikan kegunaan berkembang. Contohnya, arsitektur monumental yang pembangunannya memerlukan banyak energi di saat keberlangsungan hidup untuk esok hari bahkan belum pasti pada masa tersebut. Pada dasarnya, ketika arsitektur prasejarah berkembang, peninggalan paling tua dari nenek moyang kita pada zaman batu yang belum menetap adalah gua dengan banyak ruang, tempat perlindungan dari batu, dan susunan tiang-tiang seperti tenda dengan atap dari jerami atau alang-alang yang tidak permanen. Hal ini dikarenakan struktur yang permanen hanya akan menyulitkan manusia zaman batu yang masih nomaden.

2. Neolitikum

Pada zaman neolitikum (zaman batu baru), nenek moyang kita sudah mulai menetap karena sudah mulai mengetahui cara bercocok tanam, berburu dan beternak, membuat pakaian, membuat tembikar, dan menyimpan serta mengawetkan produk secara sederhana. Karena itu, arsitektur dengan sifat yang lebih permanen mulai berkembang walaupun bahan yang digunakan masih bersifat semi-permanen seperti jerami, lumpur, tanah liat, kayu, dll. Salah satu contoh arsitektur pada zaman ini berada di Eropa, dekat bagian timur dari dataran tinggi Anatolian, Ҫatal Hüyük. Tempat ini dikenal sebagai kota terorganisir dengan ekonomi ektensif yang didasari dengan perdagangan, dan situs arsitektural yang lebih maju. Rumah-rumah dan pondasinya dibuat dari batu bata yang terbuat dari lumpur. Bentuknya menyerupai persegi, tingginya satu lantai, dan terbagi ke dalam tempat tinggal dan tersambung dengan gudang. Rumah ini dapat dimasuki melalui cerobong asap yang sekaligus digunakan sebagai pintu. Pergerakan dari rumah ke rumah lainnya juga hanya melalui atap ke atap. Tanpa pintu dan jendela dan terdiri dari struktur kotak-kotak yang terus menerus, rumah-rumah ini tampak seperti diding solid dari luar.

stonehenge-above_24772_600x450

 

Bangunan paling mengagumkan dari masa ini tidak dibuat untuk keperluan sehari-hari, tatepi merupakan monumen. Stonehenge di dataran Salisbury, tak jauh dari Avebury, lebih padu dan paling utuh dari pada monumen neolitikum lainnya serta sudah menarik perhatian dan banyak kontroversi. Stonehenge dibangun dengan bentuk konsentris. Ditengah-tengahnya terdapat altar. Di sekeliling altar, dalam bentuk susunan sepatu kuda,  terdapat trilithon yang masing-masingnya terdiri dari dua buah kolom (post) yang beratnya mencapai 40 ton satu kolomnya dan satu buah kolosal lintel. Setelah trilithon, ada susunan lingkaran dari batu lebih kecil yang diletakkan secara vertikal. Yang terakhir adalah lingkaran terluar yang mencapai diameter sebesar 106 kaki. Lingkaran terluar inilah yang paling monumental karena terdiri dari batu pasir monolit setinggi 13,5 kaki yang dulunya terdapat lintel bersambung di atasnya. Dari bentuk arsitekturalnya, diduga Stonehenge dulunya digunakan oleh penyembah matahari.

Setelah Stonehenge, pada zaman megalitikum (batu besar), arsitektur mesir mulai bangkit. Salah satu yang terbesar adalah pembangunan kuil dewa matahari Amun-Ra. Disini terlihat penggunaan kolom yang terlihat mirip dengan tipe kolom doric pada kuil-kuil di masa keemasan arsitektur Yunani. Setelah itu, arsitektur terus berkembang hingga mencapai masa kejayaan arsitektur Yunani, di mana banyak penggunaan kolom dengan tipe yang lebih beragam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s